Bayi Tertukar, Ibu-ibu Ini Sadar Saat Tak Sengaja Bertemu 3 Pekan Kemudian

(Maria Lorena Gerbeno dan Veronica Tejada)

 

San Juan, Argentina, Serial drama Korea berjudul ‘Endless Love’ tentang kisah bayi yang tertukar sepertinya tak sekadar cerita. Dua orang ibu yang baru saja melahirkan, Maria Lorena Gerbeno (37) dan Veronica Tejada, mengalami hal serupa. Bayi mereka tertukar di rumah sakit dan tak sengaja terungkap saat keduanya bertemu kembali.

Dilansir Mirror, Jumat (25/10/2013), peristiwa tertukarnya bayi ini dimulai ketika Maria dan Veronica melahirkan di sebuah rumah sakit yang terletak di San Juan, Argentina. Segera setelah Maria melahirkan bayi perempuannya, dokter memberitahu padanya bahwa sang bayi yang lahir melalui operasi caesar tersebut memiliki berat badan 2,7 kg. Namun staf rumah sakit mengantarkan seorang bayi padanya dengan berat badan 3,6 kg.

“Saat itu saya bilang pada mereka bahwa mungkin mereka salah mengantar bayi, tapi mereka bilang saya salah paham. Setelah itu mereka tidak memberi tahu saya apa-apa lagi,” ungkap Maria.

Meskipun curiga, Maria menyatakan bahwa dirinya tak bisa berbuat apa-apa karena tak mendapat respons positif dari rumah sakit. Sekitar 3 pekan kemudian, Maria datang kembali ke rumah sakit untuk kontrol dan bertemu dengan Veronica. Saling berbincang-bincang, terungkap bahwa Veronica pun mengalami hal yang sama seperti Maria. Keduanya kemudian merasa yakin bayinya tertukar setelah saling memberi tahu ucapan dokter terkait bobot bayi masing-masing sesaat setelah melahirkan.

Maria kemudian mengajukan pengaduan pidana dan meminta hakim untuk tes DNA. Namun sampai keputusan dan bukti konklusif keluar, mereka belum diperbolehkan untuk menukar bayi yang mereka rawat saat ini. Selama proses penantian, Maria dan Veronica saling berkomunikasi dengan baik mengenai perkembangan bayi kandung mereka.

“Saya menghabiskan waktu 3 pekan dengan bayi yang sebenarnya bukan anak kandung saya, tapi saya memberinya perawatan yang sangat penuh cinta. Sebab saya pun tahu bayi saya yang sebenarnya dirawat dengan sangat baik juga oleh Veronica,” tutur Maria.

Beberapa hari kemudian keduanya bertemu di pengadilan dan dari hasil bukti diputuskan bahwa bayi mereka memang tertukar. Para bayi tersebut pun sudah kembali pada ibu yang sebenarnya. Baik Maria dan Veronica kini sedang mempertimbangkan tindakan hukum terhadap rumah sakit tempat mereka melahirkan. Rumah sakit swasta tersebut dilaporkan mengakui terjadi kesalahan dan mengungkapkan akan bekerja sama dengan baik dalam proses penyelidikan.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/10/25/110334/2395304/1202/bayi-tertukar-ibu-ibu-ini-sadar-saat-tak-sengaja-bertemu-3-pekan-kemudian

150 Dokter Gagal Mendeteksi, Penyakit Langka Sukses Didiagnosis Google

(Carl Holt)

 

Staffordshire, Inggris, Setelah 150 dokter gagal mendiagnosis apa yang salah dengan dirinya, seorang pria di Inggris menelusuri gejala penyakitnya di Google. Belakangan dia menemukan ada kondisi medis yang sesuai dan menemui dokter swasta untuk terakhir kalinya. Ternyata dia didiagnosis kena penyakit langka.

Carl Holt (34 tahun) sudah 2 tahun lamanya mondar-mandir kebingungan mencari tahu penyakit apa yang menyerangnya. Ayah dari seorang putra ini mengalami sakit tenggorokan yang tak mau hilang setelah pulang dari liburan keluarga di bulan Juli 2010.

Tak hanya itu, pria yang bekerja sebagai manajer penjualan ini menjadi kurus,berat badannya menyusut 28 kg dan merasa lelah sepanjang waktu. Padahal dia sering bermain sepak bola 2 kali dalam seminggu. Dia lantas mengunjungi beberapa rumah sakit sampai 6 kali dalam sebulan.

Sayang, dokter dan petugas medis tak berhasil menemukan ada yang salah dengan tubuhnya. Holt cemas jikalau dirinya menderita kanker. Tapi setelah mencari tahu gejala penyakitnya di internet dan menonton video di YouTube, ia mengetahui sebuah penyakit langka bernama sindrom Eagle.

Penyakit langka ini terjadi ketika ligamen, yaitu bagian otot yang terikat pada tulang, yang terletak di bagian belakang tenggorokan menjadi kaku atau mengeras. Bisa juga karena tulang di dasar tengkorak memanjang. Gejalanya berupa sakit pada tenggorokan dan telinga.

Penderita sering kali merasa ada sesuatu yang terjebak di dalam tenggorokan dan sulit menelan. Anehnya, walau sudah mencoba menjelaskan kepada dokter tentang penyakit ini, Holt tidak diperiksa untuk mendeteksinya oleh 3 orang dokter, bahkan di rumah sakit University of North Staffordshire sekalipun.

Oleh karena itu, dia mulai kehilangan kepercayaan terhadap dokter-dokter tersebut. Holt memutuskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit swasta Salford Hospital di Greater Manchester pada bulan Oktober tahun 2013 lalu. Dia akhirnya didiagnosis dengan penyakit langka.

Pria yang tinggal di Stoke-on-Trent, Staffordshire ini lantas mengkritik NHS (lembaga pemberi jaminan kesehatan masyarakat di Inggris) karena gagal menemukan penyakit pasien, bahkan setelah pasien berupaya membikin janji dengan sekian banyak dokter dan rumah sakit.

“Orang-orang mulai mempertanyakan kesehatan mental saya karena saya selalu pergi di dokter, namun mereka tak pernah bisa menemukan apa yang salah dengan saya. Lewat pencarian, saya menemukan penyakit yang disebut sindrom Eagle yang tampaknya cocok dengan semua gejala yang saya derita,” katanya seperti dilansir Daily Mail, Selasa (25/6/2013).

Yang membuatnya jengkel adalah setelah menemui sekian banyak dokter, ternyata dengan menjalani pemeriksan CT scan selama beberapa menit saja, dokter di Manchester bisa memastikan bahwa dia menderita sindrom Eagle. Padahal jika dokter-dokter lain mau mendengarkan, seharusnya penyakitnya sudah terdeteksi sejak 2 tahun lalu.

Untuk mendapat diagnosis yang benar, Holt menghabiskan 10.000 Poundsterling atau sekitar Rp 153,3 juta. Kini dia memilih menjalani perawatan sebagai pasien NHS di Salford Royal Hospital. Pada bulan Maret lalu dia sudah mendapat suntikan anti-inflamasi dan tengah menunggu kepastian dokter mengenai perlu tidaknya menjalani operasi.

“Saya masih tidak merasa 100 persen. Saya akan mengatakan sekarang saya di 80 persen. Saya telah menghabiskan uang 10.000 Pound Sterling selama dua setengah tahun. Tapi setidaknya saya punya jawaban sekarang,” katanya.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/25/122422/2283443/1202/150-dokter-gagal-mendeteksi-penyakit-langka-sukses-didiagnosis-google

Gara-gara Alergi Nikel, Wanita Ini Tak Bisa Memakai Bra

(Sadie Nicholas)

 

Selama lima tahun, lesi pada perut Sadie Nicholas tak kunjung sembuh. Dari yang mulanya seukuran koin terus melebar hingga setelapak tangan. Biang keladinya ternyata alergi nikel, yang membuatnya tak bisa menggunakan sabuk, celana jins, bahkan bra.

Nikel merupakan logam putih yang kerap ditemukan pada benda sehari-hari. Bila dihitung, ada lebih dari 300.000 item yang mengandung logam nikel, mulai dari baterai, peralatan masak, kitchen sink, penjepit kertas, risleting, kunci mobil, gagang pintu, gunting, uang logam, kancing celana jins, pengait bra, sabuk, kacamata, tas dan perhiasan. Alergi terhadap logam ini berarti membuat penderitanya harus jauh-jauh dari banyak benda.

Itulah yang dialami Sadie Nicholas. Meski tak pernah memiliki masalah sebelumnya, tiba-tiba di pertengahan usia 20-an ia menjadi sangat alergi terhadap nikel. Ia bahkan tak bisa mengenakan penyangga payudara alias bra.

“Sejak saat itu, saya harus menjauh dari jepitan bra, tali rantai pada tas, bahkan kacamata hitam dengan lengan logam, yang semuanya dapat meninggalkan bekas merah pada kulit saya, kadang-kadang hanya dalam beberapa menit kontak,” jelas Sadie Nicholas, seperti dilansir Daily Mail, Kamis (20/6/2013).

Kontak dengan nikel bisa memicu eksim, dermatitis, bahkan shock anafilaksis yang fatal. Lebih parah lagi, nikel bahkan dapat menembus kain, sehingga penderita yang menaruh uang logam di sakunya bisa mengalami kemerahan dan gatal di kulit.

Lazim terkandung di kerak bumi membuat nikel mudah ditemukan dengan harga murah. Logam ini juga tidak sulit dipakai dan tidak menimbulkan korosi atau karat, sehingga membuatnya menjadi pilihan populer di bidang manufaktur.

Logam putih ini bahkan bisa masuk ke makanan melalui peralatan yang digunakan untuk memasak atau menyimpannya. Misalnya tuna kaleng, yang bisa mengandung nikel dari kaleng kemasannya. Nikel yang terjadi secara alami di dalam tanah juga dapat diserap melalui akar tanaman, yang ditemukan di sebagian besar sayuran, buah-buahan dan kacang-kacangan.\

“Untungnya, saya belum pernah mengalami reaksi terhadap benda-benda lainnya, tapi bukan berarti saya tak akan mengalaminya di masa mendatang. Alergi memiliki cara untuk merayap naik pada penderitanya,” tambah Sadie.

Konsultan dermatolog, Dr Tabi Leslie, memperingatkan bahwa alergi nikel bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Seperti kebanyakan alergi, alergi terhadap nikel dapat terjadi tiba-tiba pada usia berapa pun karena perubahan dalam sistem kekebalan tubuh dan paparan iritan.

“Perempuan memiliki risiko lebih tinggi hanya karena mereka lebih mungkin terkena nikel melalui perhiasan. Singkatnya, semakin sering kita terpapar, semakin besar kemungkinan menjadi peka dengan meningkatnya penggunaan nikel. Angka penderitanya akan terus melonjak,” tutur Dr Tabi Leslie.

Dia menjelaskan, sensitisasi terjadi ketika tubuh mulai berpikir bahwa benda tersebut melakukan serangan dan sistem kekebalan tubuh menanggapinya secara berlebihan, menyerang sel-sel dan jaringan sehat, dan mengakibatkan eksim atau dermatitis.

Meskipun jarang, beberapa orang yang begitu sensitif terhadap nikel dapat terpicu langsung, menyebabkan kondisi yang berpotensi fatal, reaksi yang dikenal sebagai shock anafilaksis, di mana saluran udara menutup.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/20/122806/2278862/1202/gara-gara-alergi-nikel-wanita-ini-tak-bisa-memakai-bra

Kisah Wanita yang Nyaris Gugurkan Kandungannya Demi Tubuh Langsing

Untuk menurunkan bobotnya, Sophie Smith (22) memilih prosedur pemasangan pita lambung. Nyaris saja Sophie mengugurkan kandungannya hanya demi menjalani operasi ini.

“Saat itu saya berumur dua puluh tahun dan saya tidak punya pilihan. Saat berusaha membunuh bayi saya, air mata saya mengalir. Saya harus membunuh bayi saya sendiri hanya demi mendapat tubuh yang langsing,” tutur Sophie seperti dikutip dari The Sun, Rabu (19/6/2013).

Faktor lain Sophie ingin membunuh janinnya adalah karena ayah sang jabang bayi tidak mau bertanggung jawab. Namun akhirnya Sophie memutuskan untuk tetap menjaga janinnya tetap hidup.

Saat ini, bayi laki-laki Sophie yang bernama Nathan telah berumur 18 bulan. Sophie mengaku pasti akan menyesal jika saat itu ia tetap membunuh janinnya.

“Mungkin aku tidak bisa melihat Nathan tumbuh,” ujarnya.

Berat badan berelebihan sebenarnya sudah dimiliki Sophie sejak kecil. Saat usianya 11 tahun, bobot Sophie mencapai 126 kilogram.

Ide untuk melakukan operasi pemasangan pita lambung didapat Sophie karena ibunya berhasil memangkas bobotnya hingga 69 kilogram. Namun saat in Sophie sepertinya tidak terlalu peduli lagi dengan bobotnya. Dia malah menikmati hari-harinya menjadi seorang ibu.

“Meskipun saat mengandung Nathan berat badanku naik 15 kilogram, sekarang aku sudah memiliki satu anak dan ingin sekali aku melihat ia tumbuh besar,” kata Sophie.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/20/100250/2278648/1202/kisah-wanita-yang-nyaris-gugurkan-kandungannya-demi-tubuh-langsing

Sering Peluk Ayah yang Kotor Berdebu, Wanita Ini Meninggal karena Kanker

Bagi anak kecil, memeluk ayah sepulang kerja adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun, kebiasaan ini justru membawa Debbie Brewer pada akhir hidupnya.

Debbie (53) telah menghabiskan 7 tahun melawan mesothelioma, sebuah kanker langka pada selaput paru-paru. Ia terinfeksi penyakit ini karena sering menyambut kepulangan ayahnya dengan sebuah pelukan, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (11/6/2013).

Ketika ia kecil. Phillip Northmore, ayahnya, bekerja sebagai penyambung pipa semen asbes. Ketika ayahnya pulang, Debbie selalu menyambutnya dengan sebuah pelukan. Phillip sendiri bekerja di galangan kapal Royal Navy Devonport di Plymouth untuk memotong-motong asbes dari pipa.

Setiap hari ketika Phillip pulang, tubuhnya selalu penuh debu-debu asbes. Tidak peduli sekotor apa ayahnya, Debbie sejak umur 3 hingga 6 tahun selalu memeluk ayahnya. Sang ayah pada 2006 silam meninggal karena kanker paru-paru yang berhubungan dengan asbes di usia 68 tahun. Dan siapa sangka, pada tahun itu pula Debbie didiagnosis penyakit mesothelioma, kanker langka pada selaput paru-paru.

Meski Debbie mengidap penyakit tersebut, ia tak lelah untuk terus berkampanye guna meningkatkan kewaspadaan atas penyakit kanker paru-paru akibat asbes. Namun, Debbie akhirnya meninggal di Hospice St Luke di Plymouth. Ia meninggalkan 3 anaknya, Siobhan, Richard, dan Kieran.

Mantan suaminya, David Brewer mengatakan bahwa Debbie sangat mendedikasikan hidupnya agar masyarakat sadar akan asbes dan bahayanya. Mesothelioma dapat tersimpan dalam tubuh selama 40 tahun kemudian akan muncul secara tiba-tiba dan hal ini biasanya akan menimbulkan dampak yang fatal selama sekitar 2 tahun.

Debbie meluncurkan sebuah situs untuk memberikan dukungan kepada penderita lain dan menjalani pengobatan eksperimental di Frankfurt. Pemeriksaaan ini akan dibayar dengan kompensasi yang Debbie dapatkan saat setahun setelah ia didiagnosis. Dana tersebut berasal dari Departemen Pertahanan galangan kapal tempat ayahnya bekerja.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/11/135611/2270179/1202/sering-peluk-ayah-yang-kotor-berdebu-wanita-ini-meninggal-karena-kanker

Bangun dari Operasi, Hidung Pria Ini Malah Hilang

(Vishal Thakkar)

New York, Maksud hati ingin memiliki hidung mancung, pria ini mendatangi seorang dokter bedah plastik terkemuka. Namun apa daya ketika operasi selesai dilakukan, pria ini malah mendapati seluruh hidungnya menghilang. Tak terima, pria ini pun menuntut sang dokter.

Pasien pria yang diketahui bernama Vishal Thakkar ini mengisahkan setelah bercerai dengan istrinya pada tahun 2006, ia memutuskan untuk ‘melakukan sesuatu yang egois’ dengan mengoperasi hidungnya. Saat itu Thakkar tinggal di Tulsa, Oklahoma dan mendatangi salah satu dokter bedah plastik terkemuka di kota tersebut yaitu Dr. Angelo Cuzalina.

Menurut pria yang berasal dari New York ini, setelah menjalani operasi pertama, ia menderita gangguan pernafasan ringan yang kerap muncul ketika ia tidur atau berolahraga. Kemudian Thakkar kembali menemui Dr. Cuzalina dan diminta melakukan operasi hingga delapan kali dalam setahun untuk memperbaiki berbagai kerusakan yang ia peroleh dari prosedur sebelumnya.

Sebelum melakukan operasi-operasi perbaikan yang berlangsung selama kurang lebih enam tahun itu, Thakkar mengklaim sempat meminta secara spesifik kepada salah satu staf Dr. Cuzalina bahwa ia tak ingin mereka mengambil tulang rawan dari kedua telinganya yang dibutuhkan tim bedah untuk memperbaiki hidungnya.

Tapi ketika terbangun beberapa jam kemudian, Thakkar merasakan nyeri luar biasa di belakang telinganya. Dan benar saja, tim bedah ternyata telah mengambil tulang rawan dari telinga Thakkar untuk keperluan operasi. Fox 23 melaporkan bahwa kemudian Dr. Cuzalina mengirimkan email berisi permintaan maaf kepada Thakkar.

Kesalahan ini terulang kembali ketika Thakkar mengetahui bahwa tim bedah Dr. Cuzalina juga sempat menggunakan tulang rawan yang ada di atas tulang rusuk Thakkar untuk keperluan operasi karena mereka ‘kehabisan’ tulang rawan dari telinganya.

Masalah pun tak berhenti sampai disitu saja. “Ia (Dr. Cuzalina) mengatakan terjadi infeksi di hidung saya tapi karena saya berada di atas meja operasi dan tak sadarkan diri, tentunya ia yang harus membuat keputusan,” kisah Thakkar kepada Fox 23.
Tapi tanpa dinyana ketika terbangun dari operasi yang dilakukan pada tahun 2011 itu, Thakkar kaget bukan kepalang karena ia malah kehilangan seluruh hidungnya. Hidungnya terlihat menjadi rata.

Tak terima, pengacara Thakkar pun melayangkan tuntutan kepada Dr. Cuzalina. Thakkar menduga dokter ini secara diam-diam merekam perbincangan mereka di kliniknya, padahal hal ini melanggar privasi pasien.

Apalagi rekaman itulah yang kemudian digunakan sebagai justifikasi atau pembenaran terhadap surat yang dilayangkan Dr. Cuzalina pada tanggal 31 Agustus 2012 kepada Thakkar. Di situ Dr. Cuzalina menekankan tak mau mengoperasi Thakkar lagi karena ‘Thakkar terus memberikan ancaman dan mengganggu staf-stafnya, tempat praktiknya, bahkan mengganggu dirinya sendiri secara personal’.

Karena dituntut oleh Thakkar, sang dokter bedah pun dikatakan memberi Thakkar resep obat-obatan yang berbahaya. Padahal sebelumnya dokter bedah yang juga presiden American Board of Cosmetic Surgery ini memiliki track record yang baik dan tak pernah mendapat komplain dari pasien-pasiennya selama beroperasi di Oklahoma.

Secara rinci, tuntutan itu menyebutkan bahwa Thakkar ‘diberi resep obat-obatan dengan jumlah yang berlebihan dan sanggup membunuh pasien jika dikonsumsi, diantaranya Loratab, Ambien, Valilum, dan Oxycodone.’

“Saya tak ingin hidup seperti ini. Ini lebih buruk daripada mati,” pungkas Thakkar seperti dilansir Daily Mail, Sabtu (8/6/2013).

Hingga kini Dr. Cuzalina belum dapat dimintai keterangan dan tim pengacaranya menolak permintaan wawancara untuk stasiun TV Fox 23. Mereka mengaku tak dapat berbicara tentang riwayat medis Thakkar karena baik Thakkar dan Dr. Cuzalina telah terikat dalam perjanjian yang bersifat rahasia antara dokter dengan pasiennya.

 

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/08/120155/2267817/1202/bangun-dari-operasi-hidung-pria-ini-malah-hilang

Dokter Enggan Lakukan Cek Darah, Gadis Ini Meninggal Setelah Dipulangkan

Brooklyn Harrold (2) meninggal akibat septikemia beberapa jam setelah dipulangkan dokter di rumah sakit. Padahal ibunya, Leanne (20), terus meminta dokter untuk memeriksanya lagi, namun ia justru dibilang ‘ibu paranoid’ oleh dokter tersebut.

Gadis malang ini awalnya dibawa ke Northampton General Hospital pada 9 Mei silam karena menderita demam tinggi, seperti dilansir Daily Mail, Selasa (11/6/2013).

Di rumah sakit tersebut, Leanne menunggu selama 5 jam. Hingga akhirnya ia memohon dokter untuk melakukan pemeriksaan rontgen dada atau merujuk putrinya ke Birmingham Children’s Hospital. Brooklyn pun akhirnya diberi perawatan inap 1 malam, namun dipulangkan pada keesokan harinya tanpa pemeriksaan apapun. Saat itu Leanne kembali meminta untuk dilakukan tes darah lengkap.

Dokter saat itu mengatakan pada Leanne bahwa kemungkinan Brooklyn hanya mengalami gastroenteritis dan bahkan menyebutnya ‘ibu paranoid’ ketika ia terus-menerus memohon pada staf rumah sakit untuk memeriksa Brooklyn lagi.

Akhirnya Leanne membawa pulang putrinya. Tetapi kurang dari 24 jam kemudian tubuh Brooklyn menguning, kemudian Leanne menghubungi ambulans untuk membawanya kembali ke Northampton General Hospital. Sebuah tes darah lengkap kemudian dilakukan pada Brooklyn dan ia kemudian dipindahkan ke Birmingham Children’s Hospital.

Saat akan memasangkan tabung ventilasi, dokter mengatakan kepada Leanne bahwa mereka harus menempatkan gadis ini dalam kondisi koma. Namun, Brooklyn justru meninggal beberapa menit setelah dibius.

Brooklyn memiliki riwayat masalah medis karena ia lahir dengan truncus arteriosus, yaitu penyakit jantung langka yang menyebabkannya memiliki satu arteri besar. Akibat kondisinya ini, diperlukan operasi untuk memasang tabung yang menghubungkan organ paru-parunya.

 
Hingga saat ini belum diketahui bagaimana Brooklyn bisa mengidap keracunan darah, namun diperkirakan ia mungkin memiliki infeksi hati yang kemudian berkembang menjadi septikemia.

Leanne yang kini tinggal di Northampton, mengatakan akan mengambil tindakan hukum terhadap rumah sakit karena tindakan yang dilakukan pada putrinya tidak bisa ia terima. “Saya akan menuntut. Saya yakin konsultannya akan melakukan pemeriksaan dan saya juga akan menyiapkan pengacara,” ujar Leanne.

“Mereka membuat Brooklyn menunggu di Paddington Ward (di Northampton General Hospital) selama 5 jam, kemudian dokter datang dan memeriksa pernapasannya. Dokter kemudian mengatakan tidak perlu melakukan tes darah dan ia meninggalkan putri saya duduk di ruang tunggu selama 2,5 jam,” lanjutnya.

Leanne mengatakan ia sudah 7 kali meminta agar dilakukan scan jantung dan rontgen dada. Namun, staf rumah sakit tetap menolak. Bahkan ketika Leanne meminta untuk memindahkan Brooklyn ke Birmingham Children’s Hospital, mereka berkata ia tidak perlu ke sana dan justru dipulangkan.

Kakak Brooklyn, Tia (4), terus bertanya kapan adiknya akan pulang. Meskipun Leanne sudah mengajaknya ke makam Brooklyn, ia masih belum bisa menjelaskan kenyataannya.

Hasil dari tes darah yang dilakukan oleh rumah sakit kemudian mengungkapkan Brooklyn menderita septicemia. Hasil ini telah dituliskan pada surat kematiannya.

Seorang juru bicara dari Northampton General Hospital mengatakan penyelidikan penuh telah dilakukan untuk memeriksa kasus ini. “Kami mengucapkan belasungkawa tulus kami untuk keluarga Brooklyn atas kehilangan ini. Kami akan membahas hasil investigasi pada keluarga Brooklyn setelah semuanya terungkap,” ujar juru bicara tersebut.

 

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/11/115646/2269922/1202/dokter-enggan-lakukan-cek-darah-gadis-ini-meninggal-setelah-dipulangkan

Luka Sedikit Saja Bisa Bikin Bocah Ini Meninggal Kehabisan Darah

Singapura, Saat terluka dan berdarah, tubuh manusia memiliki ‘pasukan pelindung’ yang dapat membuat perdarahan segera berhenti dan menutup luka. Tapi karena kondisi tertentu, bocah ini bisa langsung kehabisan darah hanya karena luka kecil.

Saat baru berusia 6 bulan, Prakul mengalami memar di sepanjang lengannya. Orang tuanya pikir memar tersebut hanyalah reaksi terhadap gigitan serangga. Bahkan dokter pun berpikir demikian dan memberinya obat untuk gigitan serangga.

Menurut dokter, memar adalah reaksi buruk terhadap gigitan serangga. Efek racun serangga akan hilang dalam beberapa hari. Tapi memar tak kunjung sembuh, malah semakin banyak dan menyebar ke kaki dan daerah perut.

Khawatir, orang tuanya langsung mengajak Prakul ke spesialis anak. Tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, pasangan suami istri Meera Pirabu (35) dan suaminya Pirabu Mari Reddy (43) memutuskan untuk melakukan berkonsultasi ke haematologist, dokter yang mengkhususkan diri dalam penyakit darah, di National University Hospital (NUH).

“Setelah beberapa botol darah dan Prakul melalui serangkaian tes, kami diberi kabar buruk. Dia menderita hemofilia,” ujar Meera Pirabu, yang berasal dari Singapura, seperti dilansir Asiaone, Jumat (7/6/2013).

Hemofilia adalah kelainan darah bawaan, di mana penderitanya memiliki tingkat rendah atau tidak adanya faktor pembekuan dalam darah. Kurangnya ini menyebabkan penderita hemofilia mengalami pendarahan dalam waktu yang cukup lama dan masalah utama adalah pendarahan internal.

“Ini (hemofilia) diwariskan, tetapi baik saya dan suami tidak memiliki riwayat keluarga gangguan ini,” tambah Meera.
Prakul yang kini berusia 2,5 tahun, termasuk penderita dengan persentase kecil karena kondisinya muncul sebagai mutasi spontan, bukan diturunkan dari orang tua.

“Hal lain yang mengejutkan, dokter mengatakan tidak ada obat (untuk penyakit ini). Sebagai mahasiswa science, saya belajar tentang hemofilia di buku saya. Tidak pernah membayangkan bahwa anak saya akan menjadi seorang penderita,” katanya sambil berlinang air mata.

Yang juga menjadi masalah, Prakul tumbuh menjadi anak yang hiperaktif. Dengan kondisi hemofilia, orang tuanya harus ekstra hati-hati agar putra bungsunya ini tidak melukai diri sendiri, karena luka sedikit saja bisa membuatnya mati kehabisan darah.

Hemofilia adalah kelainan pada darah, di mana darah tak dapat menggumpal secara normal. Jika mereka berdarah, maka pendarahannya tidak dapat dengan mudah berhenti. Hemofilia selalu diwariskan. Ini berarti bahwa kelainan tersebut dibawa orangvtua kemudian menular kepada anak melalui gen.

Sebagian besar kasus hemofilia timbul sebagai gangguan genetik, bahwa seseorang dilahirkan dengan hemofilia ditentukan oleh genetiknya. Kondisi ini disebabkan oleh cacat di salah satu gen faktor pembekuan yang terletak pada kromosom X.

Pada yang akut biasanya dijumpai nyeri dan bengkak disertai distensi dari kapsul sendi. Kulit diatas sendi nampak terenggang dan lebih berkilat. Gejala utama, pendarahan sulit dihentikan.

 

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/07/172637/2267452/1202/luka-sedikit-saja-bisa-bikin-bocah-ini-meninggal-kehabisan-darah

Kanker Tapi Didiagnosis Flu oleh Dokter, Bocah Ini Hampir Meninggal

Sofia (2), hampir meninggal akibat kanker. Hal ini terjadi setelah orang tuanya, Danny (33) dan Zoe (31), berulang kali ke dokter yang sama dan ditegaskan bahwa gadis kecil ini hanya mengalami flu biasa.

Danny dan Zoe membawa Sofia ke dokter pertama kali setelah gadis yang biasanya aktif ini mulai bersin-bersin dan kesulitan bernapas. Saat itu dokter di Vine Medical Centre, Ashford, memberitahu bahwa Sofia menderita flu atau mungkin infeksi dada, seperti dilansir Daily Mail, Senin (10/6/2013).

Mereka kemudian membawa Sofia ke dokter tersebut kembali 4 kali dalam waktu kurang lebih 4 minggu. Namun, setiap kali ke sana gadis kecil ini hanya diberi antibiotik. Tak kunjung membaik, di leher Sofia justru muncul benjolan.

Orang tua Sofia pun menelepon dokter bedah dan dokter tersebut mengatakan bahwa benjolan tersebut tidak berbahaya. Nyatanya benjolan tersebut tumbuh semakin besar dan sisi kiri wajah Sofia membiru. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, orang tuanya segera membawa gadis kecil ini ke Tunbridge Wells Hospital.

Setelah dilakukan pemeriksaan X-ray di dadanya, terlihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sofia. Tim dokter menduga Sofia mengalami memiliki gagal paru-paru. Sofia kemudian dipindahkan ke St George’s Hospital, London, di sana ia menghabiskan 2 minggu perawatan intensif dan didiagnosis dengan leukemia lymphoblastic akut.

Sofia kemudian dipindahkan ke Royal Marsden Hospital, London. Dokter mengatakan bahwa kelenjar getah bening di leher Sofia mengalami radang sehingga saluran angin pernapasannya terdorong 1 inci ke samping. Inilah yang mengganggu pernapasannya.

Danny dan Zoe, yang juga memiliki putri lain, Ava (5), akan mengambil tindakan hukum terhadap dokter yang pada awalnya tidak memberi diagnosis yang tepat.

“Sebagai orang tua, Anda tentu sangat mengenali anak Anda. Sofia adalah anak yang sangat aktif, saat ia menjadi pendiam, saya dan istri saya tahu ia tidak dalam kondisi baik,” ujar Danny.

Dokter yang tidak melakukan pemeriksaan lebih mendalam pada Sofia, membuat gadis kecil ini harus berjuang hanya untuk bernapas. Hal ini membuat Danny dan Zoe merasa sangat terpukul, apalagi mereka telah mengunjungi dokter tersebut 4 kali.

Kini Sofia sudah kembali ke rumah, ia akan menjalani perawatan, termasuk kemoterapi, untuk 2,5 tahun ke depan.

“Kami belum mau berkomentar apapun saat ini,” ujar seorang juru bicara Vine Medical Centre.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/10/132900/2268882/1202/kanker-tapi-didiagnosis-flu-oleh-dokter-bocah-ini-hampir-meninggal

Alergi Semua Hal, Bocah Ini Cuma Bisa Makan Pizza, Burger dan Keju

(Tyler Trovato)

 

New York, Bagi anak-anak, makan pizza, burger, keju dan sandwich setiap hari layaknya hidup di surga. Tapi bagi seorang bocah bernama Tyler Trovato, mungkin itu adalah kutukan. Sebab dia hanya bisa memakan makanan tersebut karena tubuhnya memiliki alergi terhadap hampir semua hal.

Bocah berumur 6 tahun asal St James, New York ini menderita penyakit langka yang membuatnya hanya bisa makan beberapa jenis makanan. Penyakitnya disebut protein-induced entercolitis syndrome (FPIES). Tubuhnya menolak sebagian besar makanan, termasuk buah-buahan, sayuran dan daging.

“Masalahnya terjadi ketika kami mulai memperkenalkan makanan bayi. Dia muntah-muntah, kadang-kadang 15 sampai 20 kali. Dia akan berbaring, lesu. Saya menahannya dalam pelukan dan tidak tahu harus berbuat apa,” kata ibu Tyler, Jennifer Trovato seperti dilansir ABC News, Rabu (5/6/2013).

Saat bayi, Tyler terpaksa harus sering bolak-balik ke ruang gawat darurat dan menjalani tes alergi. Karena semua hasil tesnya negatif, orang tuanya pun bingung. Tyler lalu dirujuk ke dr Anna Nowak-Wegrzyn dari Mt. Sinai Medical Center di New York City yang lantas mendiagnosisnya dengan FPIES saat berusia 16 bulan.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui makanan tertentu penyebab alergi adalah mencoba dan melihat penolakan oleh tubuh. Makanan yang memicu alergi akan membuat Tyler muntah, diare dan bahkan syok hipovolemik, yaitu tubuh kehilangan terlalu banyak darah dan cairan.

Kini Tyler dirawat orang tuanya di rumah dengan pengawasan ketat, hanya boleh mengkonsumsi segelintir makanan tertentu. Setelah percobaan yang sangat panjang, akhirnya diketahui bahwa dia hanya bisa makan gandum, keju dan produk susu, ditambah jagung dan apel. Untungnya, penyakit ini akan memudar saat dia dewasa nanti.

“Sejauh yang kami tahu, tidak ada konsekuensi jangka panjang. Jadi sulit pada awalnya, tetapi anak Anda akan bisa aman dan sehat nantinya,” kata dr Nowak-Wegrzyn.

Credit : http://health.detik.com/read/2013/06/05/105336/2265245/1202/alergi-semua-hal-bocah-ini-cuma-bisa-makan-pizza-burger-dan-keju

Design a site like this with WordPress.com
Get started