Kena Infeksi Paru, Gadis Difabel Dibiarkan Meninggal oleh Dokter

 

Setiap orang seharusnya berhak mendapat layanan kesehatan, apalagi jika dalam kondisi nyawa sedang terancam. Namun seorang wanita difabel di Inggris mengalami peristiwa tragis. Dia meninggal di rumah sakit karena dokter menganggap nyawanya tak perlu diselamatkan.

Wanita tersebut bernama Tina Papalabropoulos (23 tahun). Dia mengalami keterbelakangan mental, epilepsi, dwarfisme atau cebol dan kelengkungan tulang belakang yang parah. Dalam kesehariannya, Tina dirawat sendiri oleh orang tuanya.

Pada bulan Januari 2009 lalu, Tina mengalami pneumonia yang diawali dengan batuk parah. Seorang dokter umum dipanggil untuk mengunjungi rumahnya di Essex, Inggris lalu meresepkan antibiotik. Namun dokter tersebut menolak saat diminta datang lagi untuk kedua kalinya.

Lewat telepon, dokter tersebut mengatakan kepada keluarga Tina bahwa dia menolak mengunjungi rumah pasien di luar jam kerja. Akhirnya Tina dirawat di Rumah Sakit Basildon, tapi harus menunggu 4 hari sebelum bisa diperiksa oleh dokter spesialis konsultan pernapasan.

Walau demikian, ternyata perlakuan dokter dan petugas di rumah sakit tidak jauh berbeda. Dokter awalnya memberitahu bahwa Tina mengalami infeksi ringan, namun dia diberi label ‘tidak diresusitasi’ oleh perawat yang diletakkan di tempat tidur setelah 2 jam dirawat.

Dokter mengatakan bahwa mereka tidak akan berusaha menyelamatkan nyawanya karena bisa membuat tulang rusuk Tina patah. Bahkan, salah seorang konsultan senior mengatakan kepada orang tuanya bahwa mereka tidak perlu takut dengan kata ‘mati’, kemudian mengulangi berkata ‘Mati, mati, mati’.

Tak hanya itu, dokter juga memperbolehkan orang tua Tina memberikan putrinya makanan dan minuman. Padahal dia seharusnya diberi makan lewat infus untuk menghentikan cairan yang masuk ke dalam paru-parunya. Akhirnya, Tina meninggal setelah 5 hari dirawat di rumah sakit.

“Ada kurangnya perhatian dari semua orang. Bahkan perawatan dasar rumah sakit menolaknya karena dia adalah orang cacat. Tina adalah seorang malaikat. Dia tidak bisa berbicara atau berjalan tapi dia mampu berkomunikasi dengan kami. Jika mereka telah melakukan yang terbaik, saya bisa menerima dia meninggal. Tapi mereka tidak melakukannya,” kata ibunda Tina seperti dilansir Daily Mail, Kamis (23/5/2013).

Kasus meninggalnya Tina ini lantas dilaporkan kepada ombudsman. Dalam laporannya, ombudsman kesehatan mengatakan bahwa dokter kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan hidup Tina. Pihak penyedia layanan kesehatan dikritik karena menunda memberikan perawatan dan tidak memindahkan Tina ke unit kesehatan yang lebih tinggi.

“Kami menemukan bahwa dokter telah melewatkan setiap kesempatan yang mungkin ada, betapapun kecilnya, untuk menyelamatkan hidupnya dengan memberikan pengobatan lebih dini dan lebih intensif untuknya,” demikian isi laporan tersebut.

Seorang juru bicara Rumah Sakit Basildon mengatakan bahwa sejak saat kematian Tina, rumah sakit telah membuat perbaikan yang signifikan terhadap perawatan dan pengobatan kepada pasien dengan disabilitas. Pihak rumah sakit juga akan terus mendengarkan pasien, keluarga dan pengasuh untuk meningkatkan pelayanan.

 

Credit : http://health.detik.com/read/2013/05/23/075505/2253586/1202/kena-infeksi-paru-gadis-difabel-dibiarkan-meninggal-oleh-dokter

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: