Bocah yang Kejang 100 Kali dalam Sehari Ini Akhirnya Sembuh Setelah Operasi

Image

 

Sam Parrent atau biasa disapa dengan Spike adalah bocah laki-laki kebanyakan yang sehat dan ceria. Tapi suatu hari di bulan Januari 2011, Spike (3) mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ‘sangat, sangat kelelahan’ dan ingin tidur setelah makan siang. Ayahnya, Tom Parrent hanya sempat melihatnya ambruk dan tertidur di sofa. Lalu Tom pun melanjutkan pekerjaannya.

“Beberapa menit kemudian, saya mendengar teriakan yang sangat kencang seperti suara hewan dan tahu-tahu saya mendapati Spike tengah kejang hebat. Padahal ia adalah anak yang sangat sehat jadi hal ini begitu menakutkan,” kisah Parrent (51), seorang direktur manager senior di AIG.

Saat berada di UGD, tim dokter sempat melakukan sejumlah tes terhadap Spike dan mengatakan kepada orangtua Spike itu hanyalah kejang akibat demam biasa dan terjadi pada 5 persen anak-anak.

Orangtua Spike pun diyakinkan bahwa kejang itu takkan pernah terjadi lagi. Tapi malamnya, Spike kembali mengalami kejang. Ketika dibawa ke UGD, tim dokter tetap keukeuh dan mengatakan sebagian anak penderita kejang akibat demam juga akan mengalami kejang kedua.

Peristiwa yang terjadi pada bulan Januari 2011 itu memang hanya berlangsung selama lima menit, namun yang tak terduga seminggu kemudian Spike mengalami kejang berkali-kali dalam sehari. Dari situ bocah malang ini didiagnosis terkena epilepsi.

Ketika dibawa ke Duke University Medical Center, tim dokter memberinya obat-obatan yang dapat mengendalikan kejang-kejang dan terbukti efektif pada 45 persen pasien epilepsi. Tapi nyatanya setelah mencoba berbagai pengobatan, Spike tak kunjung pulih dari kejang.

“Seseorang harus berada disampingnya setiap waktu. Pasalnya Spike terhitung telah mengalami kejang 70-100 kali dalam sehari,” tandas Parrent seperti dilansir foxnews, Kamis (14/3/2013).

Tim dokter juga telah mencoba berbagai tes dan memastikan Spike tidak terserang penyakit lain seperti kanker dan penyakit autoimun. Bahkan Spike sempat menjalani biopsi otak namun meski tim dokter melihat ada materi yang tak biasa di dalam lapisan otaknya, mereka tetap tak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada Spike.

Hingga akhirnya orangtua murid prasekolah asal Cary, North Carolina, AS itu mencoba sejumlah terapi alternatif, termasuk diet ketogenik berupa pola makan rendah karbo dan tinggi lemak namun setiap bahan makanan yang dikonsumsi hanya boleh sebesar 10 gram saja.

Pada usia 4 tahun, menu makan harian Spike misalnya krim padat, mentega padat, sepotong kecil daging dan dua buah bluberi. Untuk sementara waktu, diet tersebut tampaknya berhasil dan Spike bebas dari kejang hingga akhirnya pada bulan Agustus 2011, tahu-tahu kejangnya kumat lagi.

Kemudian pada bulan November 2011, Spike dirujuk ke Cleveland Clinic’s Epilepsy Center. Disana tim dokter bedah memutuskan bahwa Spike merupakan kandidat yang tepat untuk operasi otak. Secara khusus frontal lobe sebelah kanan Spike akan diangkat. Frontal lobe merupakan bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pemusatan perhatian dan fungsi eksekutif seperti bicara, berjalan, pemecahan masalah atau pengendalian emosi.

Operasi ini didasarkan pada sebuah studi yang baru saja dipublikasikan minggu ini dalam jurnal Annals of Neurology. Studi ini mengemukakan bahwa bagi pasien epilepsi yang tak mempan diberi pengobatan apapun, operasi pengangkatan frontal lobe ini terbukti dapat menghentikan kejang, bahkan pada banyak kasus kejangnya akan berhenti selamanya.

“Kami sendiri telah melakukan prosedur semacam ini terhadap 50-60 pasien pertahunnya di klinik ini,” ungkap ketua tim peneliti Dr. Lara Jehi yang juga direktur Cleveland Clinic Epilepsy Center.

Untuk studi ini, Jehi dan rekan-rekannya me-review kondisi 158 pasien yang menjalani operasi frontal lobe antara tahun 1995-2010. Dari situ peneliti menemukan bahwa pasien yang menjalani prosedur operasi itu bisa berpeluang bebas kejang sebesar 80 persen untuk seumur hidup mereka.

“Bahkan jika prosedur itu ditunda lebih dari lima tahun, peluang keberhasilannya bisa berkurang hingga tiga kali lipat,” tandas Jehi.

Menurut tim dokter, pada dasarnya otak akan membuat koneksi ulang terhadap satu sama lain agar dapat mengimbangi hilangnya frontal lobe. Pasalnya frontal lobe merupakan asal-muasal terjadinya kejang tersebut sehingga ketika kejang muncul maka dengan menghilangkan frontal lobe, itu akan membantu mengembalikan kesehatan otak.

Spike terakhir kali mengalami kejang pada tanggal 9 November 2011 tepat sebelum operasinya dilakukan. Namun sejak operasi pengangkatan frontal lobe-nya berhasil dilakukan, kejang Spike tak lagi kambuh dan ia mulai mengurangi konsumsi obat-obatannya.

Hal ini dirasa penting karena ketika pasien seperti Spike tidak merespon obat-obatan tertentu, peluang efektivitas operasinya bisa berkisar antara 50-70 persen. Risikony memang ada tapi bagi Jehi, manfaatnya jauh lebih besar dari risiko yang ada. Risiko operasi yang dimaksud antara lain kematian sebesar 0,2 persen dan pendarahan atau stroke sebesar 3 persen.

Tapi jika operasi tidak dilakukan, peluang kematian pasien bisa mencapai 1 persen pertahun. Kematian mendadak pada pasien epilepsi merupakan risiko tersendiri bagi pasien yang kejangnya tak terkendali, terlepas dari cedera lain akibat kejang misalnya patah tulang.

Pasien epilepsi juga berisiko tinggi terkena depresi dan mudah cemas, tapi jika pasien berkenan melakukan operasi, hidupnya rata-rata akan 5 hingga 7,5 tahun lebih lama daripada pasien yang tidak berkenan melakukannya.

Terlepas dari itu, kekhawatiran lain yang diungkap orang tua Spike adalah efek samping operasi terhadap kepribadian putra mereka.

Tim dokter memastikan ketakutan itu takkan terbukti. Faktanya, bagian otak Spike yang menyebabkan kejang tersebut telah dianggap mati dan tidak memberikan pengaruh apapun terhadap tubuh maupun kepribadian Spike. Ada kemungkinan Spike akan mengalami kelumpuhan sementara dan penurunan pemusatan perhatian serta lebih lambat dalam mempelajari sesuatu, tapi pada akhirnya keseluruhan fungsi itu akan kembali normal dari waktu ke waktu.

“Ia tengah belajar membaca dan Anda bisa lihat percepatan pertumbuhannya. Ini begitu luar biasa. Tapi di usia semuda itu, ia masih bisa melakukan apa saja,” pungkas Parrent.

 

Credit : http://health.detik.com/read/2013/03/14/090030/2193499/1202/bocah-yang-kejang-100-kali-dalam-sehari-ini-akhirnya-sembuh-setelah-operasi

TAKE OUT WITH FULL CREDIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: